Minggu, 02 November 2008

Obrolan bersama Kambing Jantan




Siapa yang tidak mengenal Raditya Dika? Seorang penulis muda berbakat yang berhasil membius para pembaca buku-bukunya dengan cerita hidupnya yang ditulis dengan gaya komedi yang ringan, menghibur dan juga cerdas. Sosok Radit dalam buku-bukunya cenderung digambarkan dengan pribadi yang konyol, bahkan cenderung autis, tapi kali ini RagazzOnline berhasil mengulik sisi lain dari seorang Raditya Dika, mengungkap cerita tentang kehidupannya khusus untuk kamu!

Apa kabar Dit? Sekarang lagi sibuk apa?
Baik-baik aja, nyiapin film Kambing Jantan. Perhatian gue sekarang fokus ke film Kambing Jantan, sama sambil nulis buku baru juga

Kita tahu Kambing Jantan adalah karya fenomenal yang membuat nama lo tiba-tiba melejit. Buat lo sendiri, arti Kambing Jantan itu apa sih?
Kalo gue rasa itu lebih ke arah penyadaran. Waktu itu gue kuliah di Australia dan gue gak tau gue punya kesukaan sama menulis, itu pertama. Tapi setelah gue fikir-fikir, gue punya kesukaan untuk maintain blog gue, gue suka mendapat respon orang tertawa. Dan kadang-kadang saat kita menjalankan itu menjadi buku, gue baru sadar kalo gue suka nulis, itu pertama. Dan gue juga bisa ngulik daya komedi gue untuk jadi sesuatu yang beda, yang bisa gue komersialkan. Dan mungkin itu kelebihan gue. Jadi dari situ gue sadar bahwa Kambing Jantan adalah sebuah penyadaran. Nah dari situ baru gue mencoba untuk mendevelop gaya komedi gue terus merembet ke hal-hal lain seperti sekarang.

Setuju gak kalo Kambing Jantan disebut sebagai langkah awal lo?
Langkah awal gue mungkin lebih ke blog. Kambing jantan sebagai blog, ya, bukan Kambing Jantan sebagai buku. Pertama kali gue ngeblog waktu itu, pasti lah tiap orang ingin tulisannya dibaca, nah dari situ gue belajar gimana cara bikin tulisan gue dibaca. Misalnya kita bikin paragraf pembuka yang baik, trus setelah itu gue belajar bikin paragraf selanjutnya yang tetap bisa dibaca orang. Jadi dengan sendirinya gue belajar elemen-elemen penulisan pop. Jadi langkah awal gue ya disitu, gimana gue coba cari-carik trik untuk memantain pembaca.

Dari buku-buku yang sudah lo tulis, mana yang proses penulisannya paling ribet?
Yang paling ribet itu buku kedua, karena itu second book syndrome buat gue. Saat buku pertama keluar dan langsung best seller jujur gue juga kaget, gue kagok, nah saat menulis buku kedua pertama formatnya berubah, jadi format cerpen, bukan blog lagi. Jadi pas gue menulis sebenarnya ada dilematis dalam diri gue, ini mau gue lanjutin atau engga, kalo pun gue keluarin nanti kalo dibandingkan jadinya seperti apa? Second book syndrome banget buat gue. Jadi akhirnya buku kedua (terbit) sebenarnya gue maksa, hasil jadinya 99 halaman tapi spasinya 1,5. Setelah lewat itu akhirnya baru gue bisa santai.

Pas buku pertama prosesnya ribet gak?
Buku pertama justru karena gue sangat santai, gue tidak berfikir akan ada orang yang mau beli, itu pertama. Dan waktu itu blog juga belum terlalu terkenal, bahkan penerbit gue pun pesimis, senior editornya sendiri gak yakin bakalan laku. Itu pun terbitnya ditunda, 5-6 bulan saking nunggu-nunggu dulu, nerbitin buku-buku lain dulu. Jadi ekspekstasi gue sangat rendah. Nah ketika orang beli, orang suka, orang baca, dan jadi best seller ya itu kagok aja buat gue, kaget, ooh ternyata orang suka sama buku gue.

Dari cerita-cerita di buku lo, kita tau kalo hidup lo warna-warni dan kocak banget. Sebenarnya hidup Raditya Dika yang sebenarnya kayak apa sih?
Kalo gue bilang comedy is a matter of perfection. Jadi apapun yang lo lakukan, itu bisa lo ubah secara komedi. Misalnya hal-hal yang bersifat observasional aja, misalnya kemarin gue nonton iklan, dan kenapa sih cewek di iklan shampo kalo make shampo bahagia banget? Perasaan gue kalo shampoan biasa aja, gak sebahagia itu. Elemen-elemen komedik itu yang sebenarnya harus digali. Bukan masalah hidup gue lucu atau tidak, tapi sebenarnya gimana kita bisa keep in mind kalo misalnya ini dibuat momen komedi buat gue. Kayak misalnya semua orang punya keluarga yang difungsional, itu pasti. Nyokap lo mungkin punya kebiasaan yang buat elo biasa tapi ternyata bisa bikin orang lain tertawa. Kayak adek gue, Edgar, mungkin orang-orang lain juga punya adek yang seliar itu tapi ga pernah berfikir kalo itu diceritain ke orang bakalan lucu.

Kayak pertama kali gue nulis diary, kelas 4 SD gue nembak cewek dan saat itu gue dengan sepenuh hati gue bilang ‘aku suka sama kamu, kamu mau gak jadi pacarku?’ dan cewek itu jawab ‘najis lo.’ Nah waktu itu adalah momen paling menyedihkan buat gue karena gue baru aja dinajisin sama cewek yang gue taksir udah lama. Tapi begitu gue baca lagi diary gue itu dan gue nemuin kalimat itu gue tertawa, jadi the matter of persepsi aja, gimana sesuatu yg lo anggap tragis, jelek, lo punya adek rese, punya nyokap kayak gini, tapi bisa lo ubah persepsinya jadi lucu. Sebenarnya tekhniknya itu doang, dan orang banyak gak nyadar tentang itu.

Kapan dan biasanya lo punya ritual khusus gak untuk menulis?
Kalo gue sih lebih ke jam sebelas sampai jam satu. Ritual gue kalo dulu, gue lebih suka ngumpulin mood dengan baca-baca buku komedi komedi, nonton acara komedi biar mood ngelucu gue bisa keluar. Karena aslinya gue, sebenarnya Kambing Jantan 600 halaman dan yang diterbitin 200, 400 halaman lainnya adalah cerita gue yang serius, cerita gue yang biasa-biasa aja, tapi begitu penerbit ngeliat dia milih 200 yang paling lucu. Jadi persepsi yang timbul di orang-orang selama ini adalah si Radit Kambing Jantan adalah seperti buku ini. Padahal aslinya gue kayak gini, gue yang serius-serius aja, maksudnya ketika lo ketemu gue di kampus, lo ngobrol sama gue, gue santai banget, gini-gini aja, gak cengengesan keluar-keluar liur gitu. Jadi ritual gue adalah mencoba untuk ngebangkitin mood ngelucu gue karena mood ngelucu itu cuma ada 30-40% dalam personality gue, itu yang penting untuk gue.

Dulu waktu lo mulai jadi blogger, apa yang mutusin lo untuk bikin blog? Apa memang sengaja bikin blog untuk mengeksplor menulis cerita lucu?
Hal yang pertama, mungkin justru pada ketidaksengajaan. Pertama gue nulis di blog itu adalah cerita tentang gebetan gue, pas SMA, semua tentang dia, namanya Sista, jadi isinya tentang Sista semua. Begitu gue nembak dia, gue bilang gue suka sama lo, dia bilang dia tau gue suka sama dia, gue tanya darimana lo tau gue suka sama lo, dia jawab kan gue baca blog lo. Itu goblok setengah mampus. Dan sejak itu gue mutusin untuk gak nulis kayak gitu-gitu lagi. Dan gue nulis tentang keluarga gue, entry pertama yang gue tulis adalah tentang anak ayam adek gue yang ususnya mejret dan coba gue masukin pake lidi. Waktu itu gue gak bermaksud untuk melucu dan ternyata orang-orang komennya bilang gue lucu. Dari situlah gue mulai gimana caranya nulis komedi yang baik dan benar. Jadi sebenarnya menulis komedi itu bermula dari ketidaksengajaan.

Setelah buku-buku lo laris, banyak blog yang ikut dibukukan. Pendapat lo akan hal ini? Merasa tersaingi gak?
Kalo gue ngerasa, ketika ada orang yang mengikuti apa yang sudah lo pernah lo lakukan sebelumnya, gue gak tau mereka ngikutin gue atau ngikutin orang luar gue gak tau, tapi kalo misalnya memang itu blog dibukukan setelah dia membaca Kambing Jantan dan dia tau format seperti ini bisa diterbitkan di Indonesia, gue justru bersyukur. Kenapa? Pertama, berarti si genre buku blog ini, di Amerika ini disebut blook, nah blook ini secara tidak langsung mendapat pengakuan karena sudah mulai banyak penulisnya, jadi sebagai sebuah genre ia kuat. Tapi, ketika orang ngikutin gaya menulis yang sama persis kayak gue, bagi gue tidak masalah karena the first always the best, buat gue tidak masalah sama sekali, justru rugi di dia karena dia tidak menggunakan kesempatan ini untuk menemukan orisinalitas dalam karyanya dia. Dan secara tidak langsung ini juga ngangkat gue sebagai orang yang pertama.

Selanjutnya apakah elo akan tetap berada di jalur ini? Atau mungkin mau coba menulis di genre lain? Kalo iya, lo mau buat cerita tentang apa?
Sebenarnya sebelum Kambing jantan keluar gue lebih banyak nulis essay-essay tentang kewanitaan, mungkin bukan kewanitaan karena kewanitaan identik dengan kevaginaan. Mungkin lebih ke arah patriotisme, pas zaman-zaman kuliah dulu gue suka nulis essay-essay filsafat. Gue suka Nietchze dan gue pernah bikin novel judulnya Logos, ceritanya tentang orang yang mencoba melampaui dirinya sebagai manusia karena ia kebanyakan baca (tulisan) Nietchze. Nah itu sebelum Kambing Jantan, buku itu yang pengen gue coba jadikan debut novel gue sebagai penulis sastra/penulis serius. Cuma ternyata pas gue mau kasih ke penerbit, itu sebelumnya gue bilang ke Mas Adhitya Mulya dan dia bilang coba kasih ke Gagas Media aja. Begitu gue mau ngasih ke Gagas gue jadi ngerasa gimana gitu dan gue jadi malah ngeprint blog gue dan itu yang gue kasih ke Gagas ternyata mereka suka dan ya udah jadinya ngeblook. Buku kedua gue rencananya mau ngasih novel Logos itu, tapi kok rasanya lebih enak nulis komedi? Dan buku ketiga sebelumnya gue juga mau lanjutin nawarin novel Logos, tapi sekali lagi kok kalo gue melihat orang-orang yang komen di blog gue dan dia bilang suka dengan buku-buku gue yang lucu, kenapa gue mau kehilangan itu? Kenapa gue gak coba lagi bikin lagi dengan format yang lebih bagus? Jadilah novel Logos gue itu gak jadi-jadi.

Dan ternyata gue lebih enjoy nulis komedi karena sebagai sebuah genre, komedi adalah genre yang sebenarnya memerlukan kecerdasan. Komedi itu seperti bermain puzzle. Jadi menurut gue, komedi itu sebenarnya adalah sebuah genre yang orang tidak tahu bahwa genre itu harus diseriusin dan begitu banyak layer didalamnya, dan bersyukur gue bisa ngerti komedi secara otodidak. Hal yang terjadi sekarang di Indonesia, buku-buku komedi yang ada adalah buat gue yang komedi malas. Ada sebuah buku yang diberi label komedi cinta dan isi didalamnya penuh dengan tebakan-tebakan dan deskripsi-deskripsi gak penting yang buat gue males. Dan itu menjadi sebuah tantangan buat gue, gimana caranya gue bisa menulis komedi yang cerdas. Oke lo bisa lucu, tapi lo harus punya struktur. Tapi sekarang ada kontranya, yaitu, justru kalo misalnya kita membuat komedi yang berfikir kita dengan sendirinya memberi limit pada karya kita. Misalnya ada anak SD atau SMP yang baca buku gue dan bisa aja mereka belum ngerti dengan apa yang gue tulis. Tapi justru itu yang bikin seru, dan gue pribadi memang senang ngulik-ngulik komedi.

Jadi lo akan tetap nulis komedi?
Ya. Karena gue ngerasa komedi itu sangat luas dan gue perlu develop lebih dalam lagi. Kalo buku kelima yang gue tulis ini, bercerita tentang patah hati, jadi isinya satu buku menceritakan satu cewek doang, kisah nyata gue juga, dan komedinya lebih dark, lebih ke komedi-komedi gelap gitu.

Lewat buku-buku lo kita bisa tau kehidupan keluarga lo. Gimana pendapat mereka tentang hal itu? Ada komplain gak dari mereka?
Kalo Edgar dia udah gak mau lagi ditulis sebagai adek yang sering disiksa secara verbal dalam buku-buku gue. Dan pas gue lagi nulis Babi Ngesot, gue bilang ke dia ‘Abang mau nulis lagi nih soal kamu, kamu mau gak?’ Dia teriak-teriak gak mau. Terus gue keluarin dompet gue. ‘Kalo Abang kasih sepuluh ribu mau gak?’ dan dia langsung bilang mau deh. Ya udah akhirnya gue ngabisin 30ribu buat Edgar supaya dia tetap ada di Babi Ngesot. Macam-macamlah, ada yang nyokap gue sekarang kalo misalnya lagi makan sekarang dan ada cerita lucu tentang dia, dia langsung diam dan bilang ke gue ‘jangan masukin buku loh, ingat Malin Kundang!’ dan makanya di Babi Ngesot cerita tentang nyokap gue gak ada. Kalo bokap gue, kayaknya dia belum pernah baca buku gue sih.

Perbedaan paling signifikan antara Raditya Dika yang dulu –sebelum menulis Kambing Jantan- dengan Radit yang sekarang adalah?
Kayaknya sih sama-sama aja. Yang sekarang mungkin gue lebih banyak ngerti, gimana cara membuat komposisi tulisan yang menarik. Pas Kambing Jantan dirilis itu gak diedit, dan gue merasa keren karena tulisan gue gak diedit dan itu best seller. Begitu Cinta Brontosaurus selesai gue tulis dan gue kasih ke editor gue dia bilang tulisan gue jelek. Gue tersinggung dan ego sebagai penulis muncul, gue bilang 'enggak tulisan gue bagus' dan dia bilang komedi gue gak bagus. Namanya Mbak Windy dan tiga bulan gue gak ngomong sama dia gara-gara itu. Dan akhirnya gue merasa mungkin dia ada benarnya dan gue baca ulang sampai akhirnya gue ngerti bahwa dia ada benarnya. Jadi perbedaannya palingan itu.

Cita-cita lo sebenarnya apa sih?
Cita-cita gue? Waktu kecil standartlah, yang mau jadi insinyur, astronot. Cita-cita gue waktu itu ingin kawin sama temen gue, namanya Amanda. Itu gue tulis di buku anak SD yang kayak gini D –Dika namanya, I-Ih keren banget, asli norak banget. Tapi yang pasti sekarang gue ingin merubah peta perbukuan kembali. Karena sekarang sudah banyak yang buku jadi blog, jadi gue merasa perlu ada sesuatu yang baru, dan gue sekarang mau bikin komik. Kemarin gue baca 5 chapter dari total 6 chapter yang ada, dan asli itu lucu banget, gue gak pernah sengakak itu. Bukan karena skripnya bagus tapi karena Dio sebagai seorang komikus bisa bikin karya yang kadar komedinya tinggi. Mudah-mudahan komik ini bisa diterima dan bisa kembali merubah peta perbukuan di Indonesia. Dan gue mau komik ini bisa bikin orang berfikiran bahwa komik Indonesia juga bagus-bagus

Ada goal lain yang mau lo capai?
Goal yang lain apa ya? Gue gak pengen kawin sih. Mungkin lulus kuliah ya, mudah-mudahan dalam waktu dekat ini juga.

Kalo pekerjaan lain yang ingin lo coba?
Dari dulu sampe sekarang gue selalu pengen jadi orang yang berkutat di bidang finance. Dulu gue kuliah di Australia juga ngambilnya finance. Tapi kayaknya sekarang industri kreatif lebih enak ya. Gue punya penerbit sendiri dan kalo misalnya gue ke kantor gue bisa pake kaos sementara orang-orang ke kantor pake kemeja, gue bisa datang santai, dan gue sangat menikmati hidup gue itu. Kayak gue bisa dapetin uang dari hal yang gue sukai, dari bidang yang gue suka, dan gue sangat menikmati hidup gue.

Dulu gak banyak anak muda yang bercita-cita menjadi penulis tapi sekarang banyak remaja yang memutuskan untuk berkarier sebagai penulis. Pendapat lo akan hal itu?
Itu bagus banget. Tapi yang paling penting, setelah gue pelajari, kenapa orang jaman dulu gue SMP gak banyak nulis, karena dulu industri perbukuan sangatlah bapuk. Bayangin, dulu kalo mau jadi penulis harus jadi penulis sastra, gak ada penulis populer kayak sekarang ini. Kalo udah kejual 3000 eksemplar aja dalam satu tahun itu udah alhamdulillah. 3000 eksemplar secara royalti itu 9 juta. Sedangkan sekarang buku-buku populer, mereka bisa menjual bukunya 3000 eksemplar dalam waktu sebulan, dan itu lumayan banget, apalagi untuk ukuran penulis yang masih SMP-SMA. Selain karena penghasilannya yang cukup besar, eksistensi sebagai penulis juga merupakan faktor yang membuat banyak anak muda mutusin untuk jadi penulis. Sekarang gini, siapa sih orang yang murni nulis cuma untuk curhat? Bikin cerita? Pasti mereka ingin buku mereka dibaca, diapresiasi, diperhatikan. Dan pasti mereka butuh pengakuan. Untuk itu, eksistensi sebagai penulis menjadi penting, apalagi untuk ukuran anak SMA yang paling-paling cuma punya label anak SMA doang, pasti ada kebangaan tersendiri dengan menyandang status penulis. Jadi faktor-faktor itulah yang buat gue menjadikan anak muda sekarang banyak yang menjadi penulis.

Gimana pendapat lo tentang novel-novel yang kayaknya asal jadi?
Menurut gue, filter itu harus ada di penerbit. Karena penerbit adalah orang pertama yang menerima naskah itu. Dan terus terang aja, gue punya penerbit dan tiap hari gue nerima naskah yang semuanya bapuk. Tugas sebagai penerbit adalah merubah yang gak bagus menjadi bagus. Tapi kebanyakan penerbit menerima naskah dan menerbitkannya karena misalnya cerita yang mereka terima sedang booming, tanpa menyaringnya lebih dulu, cuma mementingkan keuntungan dan gak perduli naskahnya itu bagus atau tidak

Menurut lo jadi penulis itu menjanjikan gak sih?
Kalo sekarang iya. Asal lo pintar, arti pintar disini adalah elo bisa bikin satu buku yang elo yakini terus, elo promosi secara kuat, seperti gue, dan elo yakin bakalan laku. Atau elo seperti teman gue, dia bikin buku yang gampang dibuat, ecek-ecek, dan gak laku-laku amat tapi banyak. Contoh dia bikin buku SMS gaul. Dia bikin 22 buku SMS gaul dengan isi yang sebenarnya cuma diotak-atik. Jadi menjadi penulis memang menjanjikan, asal elo pintar.

Sekarang lo sedang berada di jalan menuju seorang aktor. Apakah bidang ini akan lo seriusin juga?
Engga. Gak banget lah. Ini satu hal, selama ini gue kalo nonton sinetron atau film, gue sering bilang misalnya kalo dia lagi nyatain cinta gue bilang aktingnya kayak lagi nahan berak. Ternyata pas lagi di depan kamera itu susah, emang susah banget Nyet. Dan Mas Rudi berkali-kali bilang ke gue dia udah ngingetin gue buat akting dengan bagus dan itu emang susah banget. Gue pun nyadar kalo gue memang gak akan menjadi serius jadi aktor, secara sadar diri gue tau untuk gak menjadi bintang film.

Misalnya ada PH yang nawarin untuk membuat reality show tentang hidup lo. Mau gak? Kalo mau formatnya seperti apa?
Mau-mau aja sih, taro aja di rumah gue, cuma gue gak yakin mereka bisa menemukan sesuatu yang menarik untuk difilmkan, kecuali adek-adek gue dan nyokap gue, kalo gue sendiri sih biasa-biasa aja. Konsepnya sendiri? Gak tau ya, mungkin lebih baik Edgar kali ya yang dibikinin reality show karena dia unik banget.

Buku-buku lo yang lain akan difilmkan juga gak seperti Kambing Jantan?
Sebelumnya gue mau ngasih tau Kambing Jantan itu bukan buku Kambing Jantan yang difilmkan. Tapi Kambing Jantan The Movie itu mengambil tema inti dari novel Kambing Jantan dan kita membuat cerita baru. Jadi ceritanya tentang orang yang pengen tau hidupnya mau jadi apa, kuliah di Australi, yaitu gue, dan dia suka nulis. Kedua juga menceritakan long distance relationship gue sama si Kebo. Bukan dengan potongan-potongan cerita di Kambing Jantan yang difilmkan. Buku-buku yang lainnya? Belum tau sih.

Pengalaman berkesan lo selama menjadi penulis?
Ada dua. Yang pertama, waktu gue talkshow di Jogja, ada orang pake baju koko, yang menyuruh gue pulang, tobat dan sholat tahajud kepada Allah. Begitu gue tanya ke dia udah baca buku saya belum mas? Dia bilang belum. Itu pengalaman gobloknya sih ya. Yang menyentuhnya ketika ada orang yang kirim e-mail ke gue dan dia bilang dia disiksa di rumah, dia mau bunuh diri tapi habis baca buku gue dia gak jadi bunuh diri, dan besoknya dia mati ketabrak angkot –berhenti sejenak, ya enggaklah bohong.

Pengalaman gak enak yang lo dapat dengan status lo sebagai penulis?
Gue jadi susah dapet cewek! Karena setiap cewek yang kenal gue dan dia tau gue penulis buku Kambing Jantan dia akan bilang lo pernah muka lo pernah dirusak pake kolor bokap, jadi itu udah merusak harkat martabat gue secara tidak langsung. Dan yang kedua gue susah dapet approval dari orangtua cewek manapun karena gue membuat buku yang berjudul Babi Ngesot dan disitu ada kata-kata pulang tak berkutang.

Kalo dilahirin lagi mau jadi apa?
Pengen jadi gue lagi dan memperbaiki semua kesalahan-kesalahan gue.

Arti kebahagiaan buat lo?
Kalo rasa gue sih happiness is a thing of mind. Balik lagi ke masalah persepsi, lo mau seneng atau engga, udah itu aja pertanyaannya. Apapun yang terjadi di sekeliling lo, yang bisa membuatnya jadi bahagia atau tidak adalah elo sendiri.

Arti keluarga buat lo?
Gue sangat self centered, sejujurnya. Jadi gue gak perdulian. Gue jarang ketemu sama nyokap gue, bokap gue, adek-adek gue, dan gue gak perduli sama sekali. Gue pulang jam satu, gue bangun jam delapan dan adek-adek gue udah berangkat sekolah, itu bukan hal besar buat gue, gak terlalu gue fikirin.

3 kata yang menggambarkan Raditya Dika adalah?
Bipolar. Ada satu sisi gue yang meledak-ledak dan satu sisi yang lain serius. Self centered. Ambisius

5 hal yang mau lo lakuin sebelum mati?
Dari dulu gue suka Tara Reid dan gue pengen ciuman pake lidah sama dia. Gue pengen bikin buku yang semua orang suka. Gue pengen film gue kelar. Gue pengen punya sesuatu yang bisa orang lain ingat terus.

Label:

Senin, 04 Agustus 2008

Obrolan Inspiratif Bersama Zumi Zola


A Meaning Day with Zola. Itu adalah ungkapan yang sangat tepat untuk mendeskripsikan acara ngobrol santai antara Ragazzonline dengan Zumi Zola. Kalau di antara lo pada lupa-lupa ingat dengan nama ini, itu wajar. Karena dia telah cukup lama menghilang dari ‘peredaran’. Meski lo ga kenal ini orang siapa, jangan berhenti buat baca isi bincang-bincang dengan cowok yang satu ini. Ragazzonline bener-bener ga salah milih Zola sebagai partner ngobrol yang kali ini ngomongin tentang Pendidikan. Dia artis atau bukan, Ragazzonline tetap dapet banyak ‘hal’ dari dia! Dan inilah yang bisa kita bagi ke lo semua..

Kenapa Zola memilih kuliah S2 di luar negeri?
Kenapa engga? Alasannya begini, sebenarnya kuliah dimana aja gak jadi masalah ya, di sini juga ada universitas yang bagus. Jadi waktu itu, memang ini keinginan dari orang tua aku untuk pendidikan itu nomer satu. Dari amanat itu trus dipilih, mau ke mana? Kenapa waktu itu milih London, karena setelah dianalisa-dianalisa itu lebih cepat waktunya. Mungkin segala hal bisa dibeli, tapi waktu adalah salah satu hal yang gak bisa dibeli. Kalo saya menghabiskan waktu lebih lama lagi di dalam kelas, gimana kerjanya? Pengalaman? Gak efektif lah. Makanya jatuh pilihan di London. Dan di London, yang saya tau tiap tahunnya mereka (governmentnya) melakukan evaluasi terhadap sistem pendidikan mereka. Oke, saya menghabiskan uang yang tidak sedikit tapi kemudian apa yang saya dapat? Akhirnya dipilihlah London dan alhamdulillah saya lulus tepat waktu, pulang ke sini dan saya juga gak mau membebani orang tua terlalu lama, kebayang dong London dengan Poundsterlingnya itu.

Yang saya kerjakan waktu di sana, ngabisin waktu biasanya di library. Itu sampai sering bangetlah diusir, sampai diberi tau 5 menit lagi perpusnya tutup trus sampai dimatiin lampunya dan keliatan dari CCTV kalo saya masih ada di dalam. Dan karena sering ke library itu saya jadi dekat dengan securitynya

Landasan utama yang membuat Zola memutuskan untuk kuliah S2?
Yang pertama karena amanat orangtua. Dan yang ke dua saya lihat, ini pandangan pribadi saya ya, pendidikan itu salah satu –mungkin bukan jaminan 100% karena semua di tangan Allah tapi kita cuma bisa berusaha semaksimal mungkin- bagaimana kita dapat mempersiapkan masa depan yang lebih baik dan salah satu caranya adalah melalui pendidikan. Kalo ada rezeki, kalo ada kesempatan, saya rasa semua orang akan menggunakan kesempatan itu, terutama saya. Dan lagi saya juga yang paling tua di keluarga, ibaratnya adik-adik saya akan melihat kepada saya, kalo saya males-malesan mereka juga akan sama seperti itu

Mana yang lebih Zola prioritaskan, pendidikan atau karier?
Sebetulnya itu sama-sama. Pendidikan ini akan mensupport karier. Bagi saya pendidikan itu fondasi. Dan kalo kita cuma duduk di kelas, dengerin dosen tanpa melihat apa yang terjadi di lingkungan luar, itu susah juga. Ibaratnya gini deh, orang yang udah sarjana S2 aja kalo masuk ke kantor pasti akan ditanya, pengalamannya apa? Jadi saya rasa, dua-duanya penting


Setelah meraih gelar sarjana S2, bagaimana cara Zola mengaplikasikan ilmu yang telah Zola dapat?
Sekarang saya
udah pegang beberapa proyek. Sebelumnya (sebelum saya berangkat S2) saya punya restoran dan ada beberapa hal yang membuat ini gak jalan, itu saya pelajari banget, kenapa ini gak jalan? Kenapa begitu? Dan kasusnya ini saya bawa ke kelas sewaktu saya di London. Ketika saya pulang, saya juga gak mau lama-lama santai, do nothing, makanya ada beberapa proyek dan yang utamanya itu saya sedang mengerjakan charity project. Saya nulis puisi yang akan saya gabungkan dengan foto, ini kerja sama dengan teman-teman dari London, nanti penjualan foto ini akan diberikan untuk anak-anak cacat di yayasan di Jambi. Kenapa di Jambi? Karena satu, itu punya orangtua. Dan yang kedua, saya udah menganggap mereka kayak adik-adik saya sendiri.

Selain charity project itu, sekarang saya udah punya tim dan sedang berusaha mencari investor untuk produksi film, dan saya jadi produsernya. Nah disitu ilmu saya bisa dipake, bagaimana memanage tim, bagaimana memanage budget dan apa goalnya? Saya masih dalam tahap belajar bagaimana dalam sebuah project bisa mendapatkan goalnya sekaligus mendapatkan profit.


Seberapa besar arti pendidikan buat Zola?
Besar sekali. Kalo gak saya gak akan ngabisin waktu dan uang saya untuk kuliah di London


-biodata Zumi Zola-

Dari jenjang pendidikan yang udah Zola lewati, mana yang menurut Zola paling berkesan?

Paling berkesan? Semua berkesan. Kalo yang paling standart SD-lah. Di SD ada yang namanya ulangan, ujian dan itu berat-lah, apalagi godaan untuk main pastinya masih besar banget. SMP pun begitu, SMA lulus 3 tahun dan tantangan yang baru lagi pas saya di IPB. Itu semua ada level-level barunya. Dan pas S2 saya juga punya tantangan yang baru lagi.

Tapi momen yang paling berkesan buat saya adalah ketika saya menghadapi setiap kesulitan. Misalnya saat saya mengejar dosen pembimbing yang sangat sibuk sekali, itulah yang membuat saya tertantang. Di London, ketemu dosen ada yang waktunya cuma sekali dalam seminggu, itu pun hanya satu jam, dan saya punya pertanyaan 3 lembar. Kalo diemail pasti dibalasnya lama, padahal target saya cuma 1 bulan. Nah yang seperti itu yang paling berkesan buat saya, dimana saya selalu mendapat tantangan dan berusaha untuk menghadapinya, dan setelah itu saya juga harus siap-siap untuk menghadapi tantangan yang baru lagi.

Dulu Zola SMA di SMA mana? Ceritain dong tentang masa SMA Zola.
Saya SMA di Al-Izhar Pondok Labu, angkatan pertama tahun 1995 dan lulus tahun 1998. Alhamdulillah A
liz itu adalah SMA yang sangat bisa memaksimalkan apa yang murid-murid punya. Pasti setahun sekali ada yang namanya bulan bahasa, di kegiatan itu alhamdulillah saya selalu ikut, mau menang mau kalah gak masalah, yang penting saya ikut dan saya tau. Kita gak pernah tau sebatas apa kemampuan kita sebelum kita coba. Saya pernah ikut baca dongeng, baca berita, pidato bahasa Inggris cuma karena saya pengen tau, saya bisa gak sih? Awalnya memang cuma daftar aja lalu dari situ saya bisa tau seberapa besar kemampuan saya. Misalnya, maksimal kemampuan saya cuma 20-60% , ya udah gak papa, yang penting saya tau. Di SMA itu, salah satu fase penting dalam hidup saya adalah bagaimana mengeksplor apa yang saya bisa secara maksimal, dan alhamdulillah saya mendapatkan itu.

Setuju gak kalo masa SMA disebut sebagai masa-masa paling indah?
Saya cuma bisa pesan buat kalian yang masih SMA, udahlah nikmatin aja. Kalo misalnya ada yang bilang SMA itu susah atau apalah, saya sih
suka sedih karena orang itu gak tau apa yang akan dia hadapi selanjutnya. Saya bisa ngomong begini karena saya sudah melewati fase itu.

Gimana sih pendapat Zola tentang sistem pendidikan di Indonesia saat ini?
Sistem pendidikan di sini, so far.. ya yang sempurna itu ga ada lah, tapi yang bisa saya bilang adalah bisa diimprove lagi lah. Karena di semua negara pun begitu. Belajar dari kesalahan tiap tahunnya, kekurangannya apa, kemudian ini bisa dipelajari. Kesalahan di tahun berikutnya apa, kemudian seterusnya seperti itu. Dan saya yakin government jg sangat concern sama kualitas pendidikan generasi muda karena mereka ini akan menjalankan negeri ini nantinya. Dan pendidikan kan salah satu hal pondasi yang sangat penting dan harus kokoh. Ya (ibarat) kalau bangun rumah itu tiangnya salah satunya pendidikan.


Menurut Zola, apa kekurangan dan kelebihan sistem pendidikan saat ini?
Wah, saya ga bisa bilang begitu, karena saya bukan orang government ya. Yang bisa ngomong begitu mungkin menteri pendidikan. (tertawa)

Kalau opini secara orang umum?
Opini, apa ya.. Kalau saya melihat dari fakta-faktanya bahwa kita sempet ada yang juara fisika atau apa, itu bagus ya. Karena kalau misalnya sistemnya jelek, ga mungkin sampe ada yang kesana. Gitu, kan? Dan ini suatu hal yang sangat membanggakan ya bagi kita orang Indonesia.

Apa sih perbedaan signifikan sistem pendidikan di Indonesia dan di luar (London)?
Itu dia, saya ga bisa jawab secara detail ya, karena saya di sana juga cuma dua tahun,di sini juga saya ga tau bagaimana mekanismenya. Takutnya, kalau saya comment terlalu banyak, saya ga punya kredibilitas untuk mengatakan itu ya. Seperti saya bilang, saya liat disini juga udah bagus, karena udah banyak bukti-bukti yang menunjukkan bahwa pemerintah kita dan juga kayak misalnya ada sampoerna peduli sama pendidikan , djarum peduli sama pendidikan, jadi ga cuma government sebenernya yg ingin generasi muda kita maju, tapi juga dari pihak swasta pun begitu.

Menurut Zola, bagaimana sistem pendidikan yang ideal?
Idealnya adalah seharusnya dari tiap tahun ada peningkatan-peningkatan, belaja rdan belajar. Mungkin kita bisa belajar dari negara tetangga, saya ga tau ya kalau disini, tapi yang tadi saya bilang, kalau di London, tiap tahun ada evaluasi. Daripada menunggu 3-4 tahun, kenapa ga tiap tahun. Oke, kembali ke budget negera, karena pasti pakai uang juga. Tapi kalau bisa, ga ada salahnya dilakukan..

Belakangan ini, sering ada berita tentang kekerasan dalam sekolah. Bagaimana pandangan Zola terhadap hal ini, di mana kekerasan bisa terjadi di institusi pendidikan?
Saya sih ironis ya. Saya seorang yang sangat menentang senioritas dalam pandangan negatif. Misalkan, senior memaksakan juniornya untuk respek sama dia, respek itu ga bisa dipaksakan. Itu akan datang dengan sendirinya. Gitu, kan? Saya berteman dengan segala umur kok, dari yang lebih muda dari saya sampai yang lebih tua daripada saya. Satu aja, respek dan niat berteman baik, ga perlu lah dikerjain atau apa dulu. Saya waktu kuliah sangat menentang itu. Jadi Alhamdulillah angkatan-angkatan di bawah saya, ospek-ospek atau dibentak-bentak konyol itu ga ada. Saya pikir buat apa sih? Ga penting, kalau orang bilang oke ini mesti ditampar atau apalah itu, ga penting ya karena buat apa?

Bagaimana caranya biar kita ga males untuk ke sekolah?
Satu hal, mungkin, dari governmentnya sendiri bisa bikin formula yang lebih membuat generasi muda ini merasa senang untuk datang ke sekolah (untuk belajar). Saya ga tau itu gimana ya, tapi yang bisa saya katakan adalah saya pernah jadi murid lah, mungkin yang membuat males adalah punya mental begini, “Saya sekolah untuk orang tua. Bukan buat diri saya sendiri”. Sebetulnya bukan begitu, kalau kita ga punya pendidikan, bagaimana kita menghadapi masa depan? Karena yang namanya masa depan itu ga ada lagi itu orang tua (red- mandiri), itu udah lepas, lho. Jadi, ya mental yang seperti itu harus dihilangkan dulu. Sekolah ini demi kebaikan sendiri. Waktu itu terus berjalan, nanti kalau udah lewat masa-masa ini, terus nanti males deh, “Saya ga bisa ini, saya ga bisa itu, ngelamar pekerjaan susah”. Gimana company mau terima kalau dia ga kredibel. Buat apa? Ya kan? Hilangkanlah mental itu lah, kalau saya bisa kasih pesan ya. Karena saya juga pernah males dateng ke sekolah dan segala macem itu, tapi makin kesini saya belajar lagi dan liat ke belakang, seharusnya saya bisa lebih dapet banyak lagi kalau saya lebih aktif lagi dulu. Gitu kan? Jadi, jangan bikin obstacles sendiri lah, dengan sikap-sikap seperti itu. Itu akan memperlambat kita dan kita udah punya aura negatif, “ah, males ke sekolah”, “ah, sekolah bolos aja”. Rugi dua kali lho itu. Bayar iya, waktu iya. Iya, kan? (sambil tertawa kecil)


Jika Zola jadi menteri pendidikan, apa kiranya yang akan Zola benahi pertama kali untuk bidang pendidikan di Indonesia?
Pertama, saya ga tau kekurangannya apa. Tapi semua pasti ada kekurangannya. Kekurangannya dipelajari dulu. Sebetulnya, gimana kita bisa maju pertama kali ya yang basic aja. Untuk maju kita mesti mengetahui kelemahan kita dulu. Setelah kita bisa menutupi semuanya, dengan sendirinya kita akan lebih maju. Kita jangan bilang, bisa, bisa, bisa, tapi kita mesti tahu dulu apa yang kita ga bisa. Dan kenapa kita ga bisa. Gitu, kan?

Intinya sering evaluasi dan belajar dari hasilnya, ya?
Belajar itu susah lho, karena orang itu suka males buat belajar. Sering merasa udah puas, “Yah, segini cukup, lah.” Padahal ga kayak gitu.

Apa saran Zola untuk generasi muda saat ini?
Mesti termotivasi untuk mendapatkan.. Waktu itu sebenernya sedikit banget, sebentar banget. Saya suka kangen jadi murid SMA lagi, pengen banget sejam aja duduk di bangkunya. Pengen tahu, apa sih yang bikin ngantuk, apa yang bikin suka ngeliatin jam, kok ga istirahat istirahat (tertawa). Pokoknya, kitanya mesti ada mental pengen maju lah. Dan waktu itu ga bisa dikembalikan.

Apa pendapat Zola tentang homeschooling?
Segala sesuatu pasti ada pro dan kontranya ya. Kalau homeschooling gurunya emang akan lebih terfokus terhadap anaknya, itu kelebihannya ya. Negatifnya adalah dia ga berteman. Kalau di dalam kelas kan karakter teman-temannya berbeda, nah dia bisa belajar dari situ. Kan berkembang. Kalau di rumah kan cuma dia dan guru.

Menurut Zola, kenapa Indonesia dari dulu sampai sekarang terkesan ga maju-maju dan terkesan tertinggal dari negara-negara tetangga?
Kalau emang itu terjadi, bahwa kita mengalami penurunan kualitas, yang harus kita tanyakan adalah mengapa itu bisa terjadi? Saya juga ga tau kenapa itu terjadi, tapi jangan punya mental menyalahkan dulu, deh. Kalau murid menyalahkan pemerintah dan pemerintah menyalahkan muridnya, itu akan menjadi lingkaran setan. Gitu, kan? Itu dia, jangan menganggap ini menjadi suatu beban, satu. Dari muridnya dan dari government menganggap pendidikan sebagai suatu hal yang penting karena ini kita membicarakan masa depan yang artinya berpuluh-puluh dan beratus-ratus tahun ke depan. Ini adalah membentuk kualitas masa depan generasi muda negara ini. Kalau misalnya negara lain bisa maju, kenapa kita ngga? Kalau mereka bisa lebih maju, ya kenapa mereka bisa lebih maju? Semua pasti ada alasannya. Ga ada alasan bahwa orang-orang negara lain itu lebih pintar. Kayak China, saya pernah baca, mereka menyiapkan arsitek-arsitek muda untuk Olimpiade, ga perlu dibayar, lho. Ini bicara tentang SDM dan itu berkaitan dengan pendidikan, ya. Nah, kalau acaranya sukses, kan bawa nama negara juga, kan? Bagaimana mereka bisa mencintai negara segitunya. Kalau kita, Individualis kita tuh masih sangat tinggi dan kalau udah begitu, akan sulit untuk maju.

Sejak kapan Zola terjun ke dunia entertainment dan prosesnya seperti apa?
Saya emang suka acting dan waktu SMA saya ikut teater. Sebelumnya di SMP saya juga ikut lomba baca puisi dan dari situ berkembang jadi akting. Saya menganggap puisi sama dengan scenario, masing-masing pasti ada ceritanya dan akan jadi apa saya disitu? Seperti apa karakternya? Jelas itu membuat saya tertantang. Alhamdulillah sewaktu saya di Aliz saya didorong untuk ikut lomba-lomba sampai akhirnya ikut teater.

Saya sangat suka nonton film dan saya terkesan sekali dengan P Ramli. Dia legenda Malaysia dan dia itu talented banget, dia penulis, pemusik, director, producer, semua dia bisa. Dan karena orangtua saya punya VCD filmnya saya jadi kagum, apalagi semua peran bisa dia mainkan dan dari situ saya mulai pengen jadi actor.

Tepatnya saya mulai (ke entertainment) SMA kelas 3. Waktu itu Alicia Djohar, tante saya, ngajak saya untuk ikut produksi sinetronnya tapi sama Ibu saya gak dibolehin karena saya harus serius sekolah. Tapi saya mau, saya fikir why not? Saya suka tantangan, saya suka akting, akhirnya saya ikut di sinetron itu, tapi bukan peran utama karena saya juga gak mau sekolah saya terganggu. Kurang lebih setahun saya malah makin tertarik jadi actor. Tapi begitu saya masuk IPB, dapet UNMPTN, karena gak mungkin kuliah sambil shooting akhirnya stop, paling cuma iklan-iklan aja. Setelah dari IPB lulus S1, alhamdulillah saya masih dikasih kesempatan oleh MD Entertainment untuk main di 2 judul.

Saya memang agak selektif. Saya ga mau sembarangan ambil peran. Yang terpenting adalah saya suka ceritanya, saya suka karakternya dan saya tau dengan siapa saya kerja. Sampai kapanpun saya tetap punya desire untuk jadi aktor. Nantinya saya gak akan sepenuhnya jadi aktor, karena menurut saya jadi aktor masih kurang untuk memenuhi kebutuhan –ini buat saya loh ya-. Mungkin saya akan serius menjadi businessman dengan part-time jobnya menjadi aktor

Mana yang lebih menyenangkan, jadi aktor film, pemain sinetron atau bintang iklan?
Saya melihat tantangannya beda-beda. Kuncinya adalah saya enjoy. Kita bekerja tapi gak punya hati untuk pekerjaan itu jelas itu salah. Pekerjaan itu kayak pacarlah, tapi jangan dipaksain juga karena nantinya bisa menyiksa.. Sejauh ini semuanya menyenangkan karena alhamdulillah saya selalu bisa enjoy dengan apa yang saya kerjakan.

Dari peran-peran yang telah Zola mainkan, yang mana yang paling menantang? Dan bagaimana cara Zola mendalami peran?
Semua peran itu menantang, saya selalu menganggap peran sebagai sebuah tantangan baru. Saya pernah main di sinetron Culunnya Pacarku dengan karakter Mahmudin yang culun. Waktu itu saya ngomong ke Rapi (Rapi Films) ini apa? Mau dibawa seperti apa karakternya? Saya gak mau setengah-setengah. Saat itu justru saya menantang untuk bikin tokoh ini benar-benar culun karena saya gak mau kalo jatohnya malah diculun-culunin.

Pendalaman peran? Saya belajar otodidak. Dari nonton film saya bisa mengambil ilmu untuk mendalami peran, bukan meniru persis ya, tapi mengambil ilmunya.

Dari sekian banyak aktris yang sudah menjadi lawan main Zola, yang mana menjadi lawan main favorit Zola? Agnes Monica mungkin?
Favorit? Saya gak bisa bilang siapa. Semuanya punya kelebihan masing-masing. Chemistrynya juga semuanya dapet. Sama Titi (Kamal) dapet, sama Agnes dapet. Sebisa mungkin saya punya waktu untuk membedah naskah, misalnya di ruang kostum kita dialog dan cari maunya apa dari scene yang akan dimainkan.

Waktu sama Agnes saya sangat enjoy kerja dengan dia. Agnes ambisinya sangat tinggi sekali, itu yang saya suka. Waktu di sinetron Ku Tlah Jatuh Cinta, banyak hal yang kita lakukan bareng. Misalnya satu scene yang panjangnya gak nyampe satu halaman dengan durasi yang paling cuma 1 menit kita bahas bareng. Saya dan Agnes diskusi dan dialognya kita improve sampai durasinya jadi 7 menit, biar tek-toknya dapet. Tapi tentunya kita izin dulu sama sutradaranya dan alhamdulillah waktu itu dikasih kebebasan untuk mainin karakternya. Sayangnya pas sampai di teve, karena ada durasi, scene itu dipotong juga, tapi at least kita enjoy. Kita sama-sama merasa punya tanggung jawab, gak sekedar makan gaji buta dan cuma menghafal naskah. Kita dibayar bukan untuk menghafal, kalo menghafal namanya ujian. Kita dibayar untuk mengerti apa yang karakter ini mau, intonasinya gimana? Ekspresinya? Sedih? Senang? Nangis? Semua pasti harus ada alasannya

Sinetron itu produk gratisan tapi penonton punya kuasa penuh untuk mengganti channel. Kalo di bioskop orang gak begitu, mereka beli tiket, duduk nonton dan kalo jelek ya dihantam aja. Jadi biar sinetron itu gratisan, saya tetap merasa bertanggung jawab untuk memberikan yang terbaik dari yang saya bisa dan alhamdulillah waktu itu respon penonton bagus. Dan saya looking forward-lah untuk kerja sama dengan Agnes lagi.

Seandainya Zola dikasih kesempatan untuk memilih lawan main untuk berakting di sebuah film, siapa yang akan Zola pilih?
Christine Hakim. Alasannya? Film Tjoet Nyak Dhien adalah film pertama yang bikin saya merinding. Saya waktu itu masih SD dan waktu itu saya gak boleh tidur di atas jam 9 malam, tapi hari itu saya boleh tidur jam 11 karena kebetulan bisa nonton filmnya pas malem. Saya merinding banget dan jatuh cinta sama film itu.

Alhamdulillah sekali sewaktu saya di London, waktu itu saya silaturahmi ke tempat Om saya yang kerja di Paris, di UNESCO dan pas ngobrol-ngobrol ternyata Om saya itu sahabat baiknya Christine Hakim. Saya langsung pesan ke Om saya untuk menghubungi saya kalo Bu Christine main ke tempatnya. Sekitar bulan September tahun lalu saya dikabari Ibu Christine mau ke Paris, dan saat itu juga saya langsung terbang dari London ke tempat Om saya. Dan akhirnya saya bisa ngobrol-ngobrol sama Bu Christine, sarapan bareng dan saya menemani beliau selama 2 hari di Paris. Saya bilang ke manager saya, kalo ada kesempatan akting dengan Christine Hakim, gak dibayar juga gak papa. Christine Hakim juga sempat ngasih tips-tips ke saya untuk memilih film dan jelas itu masukan yang penting banget buat saya. Cuma sayangnya setelah pulang dari Paris kita janjian ketemu tapi belum sempat-sempat.

Apa arti kebahagiaan buat seorang Zola?
Bahagia buat saya ketika saya bisa membuat bahagia orang lain. Saya bisa bilang begini karena di yayasan cacat milik orang tua saya itu saya melihat banyak sekali keajaiban. Saya melihat misalnya ada anak buta, dia pintar nyanyi dan entah gimana caranya dia juga bisa main organ, bernyanyi sambil bermain organ. Lalu ada anak tuna rungu yang bisa nari bertiga, mereka tidak bisa mendengar lagunya tapi mereka berusaha keras menghafal gerakan dan ketukannya dan buat saya itu sangat luar biasa.

Puncaknya itu ada anak SMP perempuan, dia gak punya tangan dan dia menulis surat ke saya dan dia menulis pakai kaki. Dia menulis surat untuk saya dan tulisannya sama seperti anak-anak normal lainnya yang menulis pakai tangan. Di suratnya itu dia nulis begini : “Terimakasih, kami sangat bahagia sekali karena Bang Zola bla bla bla….” Dan saya bilang ke mereka, kebahagiaan saya justru timbul karena kalian. Saya banyak belajar dari kalian, banyak sekali. Saya belajar bersyukur dan tidak boleh cepat mengeluh. Saya kagum melihat semangat mereka yang berusaha tetap survive, hidup seperti orang normal dan tidak mengeluh karena keterbatasan yang mereka punya.

Apa arti keluarga buat Zola?
Sangat penting sekali. Ini yang saya terapkan ke adik-adik saya : ‘kalian boleh punya teman, punya geng, punya sahabat, tapi jangan menelantarkan keluarga.’ Kenapa? Karena gak fair kalian memilih teman yang baru kenal kalian bertahun-tahun dan kalian meninggalkan orang yang tau kalian sejak kalian lahir, itu gak fair. Dan saya percaya, sejelek-sejeleknya orangtua, ketika kalian mengalami masalah yang seberat apapun, keluarga adalah orang yang akan menerima kalian. Maka saya bilang jangan pernah kalian mengalahkan keluarga di atas apapun, your blood is first, Kalian boleh sayang ama siapa aja, ama teman, ama pacar, tapi jangan melebihi sayang kalian ke keluarga.

Mungkin karena saya anak tertua makanya saya punya rasa tanggung jawab untuk menyatukan adik-adik saya. Saya berusaha cari cara apa sih yang bisa menyatukan mereka? Gimana sih caranya? Gini deh, mereka sibuk, banyak kegiatan di luar tapi apa sih yang bisa bikin mereka tetap bersatu? Tetap bisa bareng-bareng? Akhirnya kita beli kucing, patungan, Dengan begitu kan ada rasa tanggung jawab. Ngasih makan, bawa ke salon, merawat kalo ada yang sakit dan serunya pas ada yang melahirkan kita pasti panek bareng dan membawa kucingnya ke dokter rame-rame. Saya mencoba untuk selalu menyatukan adik-adik saya. Misalnya tiap week-end, kita lunch bareng karena kita tau tiap senin-jumat kita sibuk masing-masing. Walau cuma sehari dalam seminggu setidaknya kita ada waktu untuk duduk bersama, kita ngobrol dan becanda segala macem. Minggu lalu saya baru beli Nintendo dan sengaja beli untuk seru-seruan main dengan adik-adik saya. Buat saya, saat-saat bersama itu harus selalu ada.

Apa sih prinsip hidup Zola?
Kalo kalian mau maju, jangan pernah bilang engga sebelum kalian mencoba. Kita gak akan pernah tau kemampuan kita kalo gak mau nyoba. Kalo kita udah bilang gak bisa duluan itu namanya kita membentengi diri kita sendiri. Gimana bisa berkembang kalo kita udah bikin benteng sendiri? Kalo udah beranggapan seperti itu nantinya kita selalu berfikir gak bisa dan akhirnya jadi gak bisa apa-apa

5 hal yang harus Zola lakukan sebelum meninggal dunia adalah?
1. Naik haji
2. Membiayai haji orangtua
3. Jadi sutradara, even itu cuma sekali seumur hidup
4. Bisa mendengar dari mulut kedua orangtua saya bahwa saya telah berhasil membuat mereka bahagia. Saya mau mereka melihat saya sukses dan jadi orang
5. Melihat adik-adik saya sukses


3 kata yang paling menggambarkan Zola adalah?
1. Ambisius
2. Suka tantangan
3. Keluarga nomer satu (/haqi & sekar)


Label:

Sabtu, 03 Mei 2008

Winky & Junot, tentang film, DVD bajakan dan bokep!



Kapan pertama kali nonton bioskop? Dimana? Nonton film apa?
Winky : Waktu gue masih SD, nonton di BIP (Bandung Indah Plaza), filmnya Maniac Cop dan gue nonton sampe 7x
Junot : Gue nonton film Robin Hood-nya Kevin Costner di Kalibata Plaza bareng ama bonyok dan sodara-sodara gue

Tempat nonton favorit lo dimana? Kenapa suka nonton disitu?
Winky : Blitz Megaplex Grand Indonesia, filmnya seru-seru dan pilihannya lebih banyak
Junot : Blitz Megaplex dan di Plaza Senayan, tempatnya enak, filmnya lebih variatif

Dalam sebulan, berapa kali nonton di bioskop?
Winky : Kalo gue biasanya seminggu 3x nonton di bioskop. Gue berusaha banget ngikutin film-film yang lagi diputer. Film horror Indonesia pasti gue tonton asalkan itu bikinan temen gue
Junot : Sama kayak Winky, seminggu 3x

Cemilan favorit saat nonton?
Winky : Coca Cola
Junot :Nachos

Yang bikin lo bete saat nonton di bioskop?
Winky : Orang ngobrol. Kenes -istri Winky- juga gak suka sama orang yang ngoceh di bioskop dan Kenes lumayan sering berantem ama orang kayak gitu. Biasanya sih gue jadi penengah antara Kenes dan orang yang ngobrol itu.
Junot : Orang ngobrol

Film Indonesia terbaik menurut lo adalah?
Winky : 2 film Indonesia terbagus yang terakhir gue tonton adalah Love dan Ayat-Ayat Cinta. Love bikin gue menganga karena semua aspek dalam film itu bagus banget. Dan Ayat-Ayat Cinta berhasil menyampaikan pesan agama dengan cara yang enak dan gak menggurui
Junot : Kala, sumpah filmnya bagus banget

Film Indonesia terjelek menurut lo adalah?
Winky : Bukan Bintang Biasa. Dari scene awal udah gak menarik. Skriptnya gak bagus.
Junot : Banyak. Tapi yang paling jelek ada 2, Bukan Bintang Biasa dan Rumah Pondok Indah. 2 film itu keliatan banget kalo dibikinnya asal, gak serius dan menurut gue cuma buang-buang duit

Kalo bisa meremake film Indonesia, film apa yang mau lo remake?
Winky : Ada satu film yang gue suka, tapi gue lupa judulnya. Ceritanya tentang 3 perampok yang ngumpet di gubuk dan ada anak kecil polos gitu pokoknya.
Junot : Gak kepikiran

Sebagai aktor gimana cara lo mendalami peran?
Winky : Gue selalu menganggap proses reading adalah proses yang sangat penting. Di reading itu kita bisa mengolah skript ampe mateng banget. Dan yang perlu diingat adalah dalam akting lo gak akan bisa jadi orang lain. Sebisa mungkin lo hapus diri lo buat sebuah peran itu semua gak akan bisa berubah. Kalo menurut gue, karakter yang elo mainin adalah bentuk lain dari diri lo yang sebenarnya
Junot : Realistis ajalah, jangan bohongi diri sendiri untuk sebuah peran. Tiap aktor punya pendekatan yang berbeda untuk mendalami peran. Kalo gue butuh banyak referensi untuk proses itu, tapi yang terpenting gue akan tetap jadi diri gue sendiri

Adegan paling sulit yang pernah lo lakukan dalam akting?
Winky : Gak ada. Gue justru cenderung kesulitan pas proses casting. Proses casting justru lebih susah dibandingkan dengan saat lo udah mulai di proses produksi. Gue pernah nangis pas lagi casting karena tiba-tiba gue disuruh marah-marah dan nangis. Gak bisalah elo mendadak disuruh nangis tanpa ada alasannya, harus ada motivasi dalam tiap adegan.
Junot : Sejauh ini gak ada. Justru susahnya kalo ada ketidaksamaan visi antara gue dengan sutradara.

Adegan paling ekstrem yang bersedia lo lakukan dalam akting?
Winky : Apa aja
Junot : Apa aja asalkan koridor-koridornya jelas

Film seperti apa yang ingin lo buat dan siapa yang cocok bermain di film lo itu?
Winky : Film perang. Ceritanya kisah nyata yang dialami kakek gue. Kebetulan kakek gue jendral dan cerita beliau tuh seru banget! Dari cerita kakek gue itu bisa diambil pelajaran tentang musuh yang jadi sahabat dan juga sahabat yang bisa jadi musuh. Pastinya harus gue yang main di film itu karena gue ngerti banget jalan ceritanya.
Junot : Cerita tentang mafia. Inspirasinya dari temen gue yang tinggal di London. Dan gue yang harus main di film itu.

Dari siapa bakat akting lo diturunkan?

Winky : Dari mana ya? Kalo menurut gue sih bakat akting gue muncul karena kebiasaan. Dari kecil gue sering diajak nyokap gue yang ikutan di Paguyuban Harry Roesli buat nonton teater, mungkin dari situ bakat akting gue mulai ada. Tapi sebenarnya gue ngerasa kalo gue lebih berbakat di bidang musik
Junot : Gue juga gitu, gue ngerasa lebih punya bakat di sepak bola. Gue ngerasa gak punya bakat akting. Pelan-pelan di film gue mulai belajar, learning by doing lah.

Arti film buat lo?

Winky : Film adalah pelajaran. Mau jelek apapun filmnya, paling engga ada pelajaran yang bisa diambil dari film itu
Junot : Film adalah sarana pembelajaran yang murah meriah

Sampai kapan elo mau berkarya di industri film?
Winky : Seterusnya gue mau terus di film, tapi mungkin nanti pindah jadi di belakang layar. Gue mau jadi produser
Junot : Selama masih punya visi yang sama dengan pembuat filmnya gue pasti akan terus di industri ini. Gue juga mau jadi sutradara dan bikin karya yang bisa menginfluence orang lain.

Aktor dan aktris Indonesia favorit lo?
Winky : Vino dan Junot di Realita Cinta Rocknroll. Lukman Sardi, Nicholas Saputra, Fauzi Baadilla. Aktrisnya? Dinna Olivia. Gue pernah kerja bareng Dinna dan orangnya sangat menyenangkan.
Junot : Nicholas Saputra, dia konsisten banget menjaga imagenya dalam tiap peran. Lukman Sardi dan Winky Wiryawan aktingnya oke, pas dan gak berlebihan. Aktrisnya gue suka Nadya Hutagalung.

Film apa yang elo banget?
Winky : Kala, Mengejar Matahari, Realita Cinta Dan Rocknroll, film-filmnya Hitler dan Natzi
Junot : Berbagi Suami, Kala, Realita Cinta Dan Rocknroll, 9 Songs

Lo suka beli DVD bajakan gak?
Winky : Suka, gue biasanya beli DVD bajakan buat nambah koleksi gue. Tapi khusus buat film-film bagus yang gue suka, sebisa mungkin gue beli DVD yang original, bahkan kalo bisa gue beli yang special edition
Junot : Suka, wajar kok kalo orang suka beli DVD bajakan

Kalo ada yang beli film lo tapi dalam bentuk bajakan, gimana perasaan lo?
Winky : Sedih sih tapi ya udahlah, mau gimana lagi?
Junot : Ambil sisi positif dan negatifnya ajalah. Sisi positifnya bisa aja orang itu beli bajakan karena filmnya bagus jadi orang-orang suka. Dan sisi negatifnya gue ngerasa apresiasi orang itu masih kurang

Apa pendapat lo tentang film bokep?

Winky : Bokep itu penting. Penting untuk bahan percobaan hahaha. Gak bisa dipungkiri film bokep adalah industri yang sangat hidup sekali.
Junot : Bokep adalah kebutuhan primer cowok. Sealim-alimnya cowok pasti punya bokep. Kalo menurut gue, bokep itu bisa dijadiin tolak ukur kenormalan seseorang juga. Contohnya, kalo pas nonton lo ngerasa ada yang bergejolak, bisa dipastikan elo masih normal, tapi kalo engga, lo patut waspada hehe


Label: